Sabtu, 30 Oktober 2010

Jargon, Tourism Guide for Indonesia


To know closer about Indonesia, we can visit for tourism. And we need information about the tourism sites. And there are an application to accomodate that we need. A mobile application which consists of tourism sites in Java Island. The
word “JARGON” itself stands for “Java Tourism Guide On Mobile”. This
application was created by Joesti (smkn 7 semarang), Nurani (smkn 7 semarang), Inne (seamolec) and Hilmi (sman 2 malang)
The application itself contains information in several areas in Java
Island; Jakarta, West Java, Central Java and East Java. The features are Tourism sites, Special Tours, Culinary, Shopping Tours, Accommodation, Currency Converter (In US Dollar, Rupiah, Euro, Peso, and Singapore Dollar).

Bahasa yang Tergerus Masa


"Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia". Salah satu ikrar Sumpah Pemuda yang dikumandangkan para pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928. Ikrar ini menang tampil berbeda dibandingkan dua ikrar yang lain. Dua ikrar lain menyatakan diri sebagai bertumpah darah satu dan berbangsa satu, namun bukan berbahasa satu. Ikrar ini menunjukkan para pemuda Indonesia menghargai sebuah budaya adiluhung masing-masing. Budaya yang kemudian dikenal sebagai bahasa daerah. Secara tersirat para pemuda menyatakan tidak akan menggeser bahasa daerah dengan Bahasa Indonesia, namun lebih menekankan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Sebuah bahasa adalah sebuah budaya yang berumur panjang, sepanjang manusia berada di bumi ini. Bahasa lahir dari sebuah perjalanan berabad-abad. Sangat sayang jika sebuah budaya ini digeser atau digantikan dengan bahasa lain. Namun jika kita tengok dalam kehidupan sehari-hari, kita jumpai lebih banyak di antara kita menggunakan bahasa persatuan dan mengesampingkan bahasa daerah. Banyak anak yang hanya diam, bengong saat diajak berbicara dalam bahasa daerah. Namun mereka lebih fasih dan percaya diri untuk bicara dalam bahasa asing.
Melihat anak-anak bermain dengan teman dan saling bertutur sapa dengan Bahasa Indonesia memang menyenangkan. Mereka menunjukkan telah siap menjunjung bahasa persatuan. Namun terasa was-was juga, sudah siapkah mereka mendukung kekayaan dan keragaman bahasa daerah, bahasa warisan bangsa.
Jangan lupakan bahasa daerah, memelihara bahasa daerah adalah tugas bersama. Memelihara bahasa daerah diawali dengan semangat "bangga berbahasa daerah". Jika kita sering memberikan penghargaan kepada siswa paling pintar berbahasa Inggris, tidak ada salahnya memberikan penghargaan kepada siswa paling pintar berbahasa daerah. Sekolah melalui kurikulum bermuatan bahasa daerah, berkomunikasi dengan orang tua, guru, teman pun dapat digunakan untuk memelihara bahasa daerah.
Bahasa daerah sering dijadikan sebagai "joke", lelucon karena aksen dan dialek yang terdengar aneh di telinga orang lain. Seringkali hal ini menimbulkan pengguna bahasa menjadi "minder", rendah diri karena dianggap orang udik. Sudah saatnya kita menggeser pemikiran ini, keragaman dialek adalah kekayaan budaya kita bukan sebagai bahan lelucon semata. Yakinkan diri kita dialek apa pun adalah kekayaan bangsa yang dijaga.
Kita pun memerlukan banyak pengayaan dan lingkungan. Media massa pun patut memberikan porsi untuk bahasa daerah. Tidak ada salahnya reklame, iklan yang disebarkan ke masyarakat juga menggunakan bahasa daerah. Pemberian ruang, kesempatan untuk pengayaan bahasa daerah akan memberikan konstribusi positif untuk memelihara bahasa ini.
Mari kita jaga bahasa kita, sebagai kekayaan bangsa.

Rabu, 27 Oktober 2010

Warak Ngendog


Kota Semarang memiliki tradisi unik dalam menyambut bulan Ramadhan. Tradisi ini disebut dugderan. Dugderan berasal dari kata dug (bunyi bedug ditabuh) dan der (bunyi petasan). Alunan bunyi bedug dan petasan menyambut datangnya bulan Ramadhan kemudian menjadikan tradisi khas Semarang ini disebut dugderan.
Dugderan mirip dengan festival, di acara ini terdapat pasar rakyat yang menjajakan beraneka ragam barang. Kita bisa mendapatkan makanan, pakaian, asesoris, dan mainan anak-anak paling mendominasi pasar rakyat ini. Dan di hari terakhir bulan Ruwah (Sya'ban) akan digelar karnaval. Karnabal digelar satu hari menjelang bulan Ramadhan sebagai berita bahwa malam hari nanti bulan Ramadhan akan datang.
Karnaval dugderan menghadirkan satu ikon khas Semarang yang disebut "Warak Ngendog". Ikon khas Kota Semarang khususnya acara dugderan. Ikon "warak ngendog" tidak hanya sekedar nama, namun juga memuat ajakan-ajakan positif untuk menyambut bulan Ramadhan.
Ditinjau dari namanya, "warak" diambil dari kata "wara'" yang artinya menjaga. Warak diartikan marilah menjaga diri kita khususnya selama bulan Ramadhan.
Secara simbol warak ditampilkan dalam wujud binatang yang unik. Kepala warak digambarkan berupa perpaduan "kambing" dan "naga" melambangkan perpaduan budaya Cina dan Jawa di Kota Semarang. Warak ditampilkan ibarat monster, simbol makhluk yang mengerikan. Penampilan Warak yang menakutkan melambangkan nafsu manusia yang dapat membuat manusia lupa kepada tugasnya untuk beribadah kepada Allah.
Sifat nafsu ini harus dilawan, perlawanan terhadap nafsu ini disimbolkan dengan bulu-bulu warak yang ditampilkan melawan arah (jawa : njegrak). Binatang umumnya mempunyai bulu yang terarah ke kaki, namun warak mempunyai bulu yang terarah ke kepala, sebagai simbol melawan hawa nafsu.
Jika kita berhasil mengalahkan hawa nafsu ini, maka kita akan mendapatkan "endog" (telur). Endog ditampilkan sebagai telur berwarna putih, mengisyaratkan jiwa yang kembali putih bersih, fitri. Tentu saja juga menyimbolkan Hari Raya Idul Fitri, hari raya kembalinya manusia ke fitrah.
Warak ngendog, sebuah icon khas Indonesia ini menampilkan pesan "Marilah menjaga nafsu kita untuk mencapai hati yang fitri".

Selasa, 26 Oktober 2010

Mengenal Indonesia


Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Budaya Indonesia ditampilkan antara lain dalam bentuk pakaian adat, rumah adat, juga lagu daerah. Untuk mengenal sekilas budaya Indonesia, seorang siswa SMKN 7 Semarang, Retno Wulandari membuat aplikasi berbasis mobile. Aplikasi ini dapat dijalankan pada pesawat seluler yang dapat mengakses Java. Dikemas dalam bentuk sederhana, aplikasi ini ditujukan kepada siswa SD maupun masyarakat umum yang akan mengenal kebudayaan Indonesia. Aplikasi dapat diunduh disini.

Konten untuk Pendidikan, sampai dimana?


Ketika mengakses internet, selain infrastruktur jaringan, juga dibutuhkan konten untuk diakses. Konten menjadi tantangan bagi siapa saja, untuk menyediakan layanan konten pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dan kita menyadari, negara ini masih kekurangankonten pendidikan khususnya yang dapat diakses oleh masyarakat.
Konten pembelajaran dapat dibagi dalam dua kategori, pertama adalah konten tidak berstruktur dan kedua konten berstruktur. Konten tidak berstruktur adalah konten yang diakses bebas tanpa persyaratan tertentu. Ilmukomputer.com dapat dikategorikan sebagai konten tidak berstruktur, kita dapat memilh materi bebas yang kita kehendaki. Sementara konten berstruktur lebih menekankan kepada konten yang disusun berdasarkan tingkat kesulitan. Sebuah materi yang dibagi dalam beberapa bab, akan menginformasikan kepada kita untuk mempelajari materi secara runtut. Materi berstruktur ini akan semakin baik jika dilayani dalam bentuk sistem pembelajaran seperti menggunakan moodle.
Kita masih membutuhkan konten-konten seperti ilmukomputer.com yang menyedikan layanan informasi di bidang komputer. Konten pembelajaran di interntet masih didominasi oleh bidang teknologi informasi, sementara konten pendidikan dasar masih dirasa kurang banyak.
Meniru ide ilmukomputer.com, jika ada portal-portal yang menyediakan konten-konten pendidikan dan diisi oleh siapa saja yang sukarela menyumbang, lebih memungkinkan untuk dilaksanakan. Misal saja portal bahasaindonesia.com memuat konten pelajaran Bahasa Indonesia, belajarfisika.com memuat konten pelajaran fisika dan lain-lain. Konten ini mengajak kita untuk saling berbagi ilmu dengan orang lain. Saatnya kita berbagi konten.

Sarana TIK di sekolah untuk masyarakat umum


Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, ditempuh beberapa jalan di antaranya melalui peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan harus dapat dijangkau oleh warga negara di manapun secara merata. Jika memungkinkan dapat dijangkau dengan mudah dan murah.
Teknologi informasi dan komunikasi khususnya teknologi internet dipandang sebagai solusi yang dirasa paling tepat untuk mengatasi masalah ini. Internet dapat disajikan dimana saja sepanjang terdapat perangkat yang dapat mengakses jaringan tersebut. Namun survey menunjukkan Indonesia masih tergolong bukan pengguna internet yang besar. Sementara ini pengguna internet terbesar adalah negara-negara Timur Tengah dan Cina. Akses internet masih dirasa mahal untuk ukuran kantong Indonesia.
Internet memang belum dapat menjangkau hingga rumah-rumah penduduk. Namun setidaknya internet telah menjangkau instansi-instansi pemerintah misalnya sekolah-sekolah publik. Dan kita ketahui sekolah-sekolah hanya melayani siswa hingga sore hari. Praktis setelah siswa pulang, fasilitas sekolah tanpa pengguna. Sementara itu layanan internet dapat berjalan 24 jam, bahkan dengan memilih pelayanan unlimited, kita dapat mengakses dengan bebas.
Memang disayangkan jika fasilitas ini tidak dapat digunakan, sementara masyarakat umum membutuhkan akses ini. Bagaimana jika sekolah-sekolah publik ini membuka kesempatan kepada masyarakat umum untuk memanfaatkan akses internet di luar jam pelajaran? Satu sisi kita meningkatkan efisiensi penggunaan internet karena internet digunakan dalam jangka waktu lebih lama tanpa penambahan biaya.
Dengan menggunakan akses di sekolah, diharapkan sekolah pun menyediakan bimbingan penggunaan internet. Pembimbingan dapat dilakukan oleh guru maupun siswa secara bergiliran. Masyarakat umum yang menggunakan diarahkan untuk mengakses situs-situs yang bermanfaat dan lebih diarahkan ke situs-situs pendidikan atau informasi yang bermanfaat.
Semakin banyak masyarakat umum yang menggunakan internet, diharapkan semakin banyak pengetahuan yang didapatkan.

Jumat, 22 Oktober 2010

Penerbitan pertama


Indosat Ulang Tahun ! Banyak acara yang bakal digelar menyambutnya. Salah satunya adalah mengadakan lomba blog yang diikuti oleh guru, siswa maupun sekolah. Bakalan ramai nih nampaknya, perlombaan lewat dunia maya. Mari ikut berkarya. Indonesia BISA !